Wakil Dekan III FAI UMJ: Saat ini, Memandikan Jenazah itu Profesi

Wakil Dekan III FAI UMJ: Saat ini, Memandikan Jenazah itu Profesi

FAI UMJ – Sebagai bagian dari Praktikum Qira’ah, Ibadah dan Kitabah, mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta (FAI UMJ) menyelenggarakan Pelatihan Pemulasaraan Jenazah di Masjid At-Taqwa pada Rabu, (29/06/2022), kemarin. Pelatihan pemulasaraan ini menghadirkan Basuki Sudarwo, S.Ag.,MKM. Sebagai narasumber. Basuki memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun dalam pengurusan jenazah di Rumah Sakit Islam Jakarta.

Wakil Dekan III FAI UMJ Nurhadi, M.A. mengatakan bahwa mengurus jenazah ini penting sebab suka tidak suka kita semua pasti mati. “Muda ataupun tua pasti mati. persoalannya bagaimana kita menyikapi datangnya kematian,” katanya. Karena itu, lanjutnya, pengurusan jenazah menjadi bagian yang disyariatkan dalam Islam.

Menurutnya, di zaman sekarang ini memandikan jenazah itu menjadi bagian dari profesi. “Sebaiknya dan seharusnya orang-orang di antara kita itu bisa melakukan pemulasaraan jenazah,” pesannya. Lebih lanjut Nurhadi mengatakan bahwa pelatihan pemulasaraan Ini akan menjadi bekal. “Praktikum ini anda difasilitasi dengan teori dan praktik pemulasaraan,” ujarnya. Terlebih FAI UMJ mempunyai tilik yang ada di buku pedoman dimana salah satunya adalah pemulasaraan jenazah.

Sebelum melatih praktikum pelatihan pemulasaraan jenazah, Basuki Sudarwo menjelaskan tentang kematian dan hal ihwal lain yang terkait dengan manusia. Ia yakin bahwa mahasiswa FAI UMJ telah dibekali teori yang cukup tentang pemulasaraan jenazah sesuai dengan syariat Islam, syariat yang telah dicontohkan baginda Rasulullah SAW. Namun, Basuki Sudarwo juga berpesan bahwa dengan ilmu untuk berdakwah kita harus berani terjun ke masyarakat. Katanya, pengurusan jenazah merupakan bagian dari dakwah dimana kita terjun dan bersentuhan langsung dengan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat. Ia juga sepakat dengan apa yang dikatakan Nurhadi, mengurus jenazah merupakan sebuah profesi. Basuki Sudarwo juga mengingatkan untuk berusaha menggapai hidup bahagia dengan tidak melupakan untuk mati dengan kebahagiaan. “Manusia itu seperti kurva. puncaknya di usia 40 tahun, setelah itu akan turun,” tausiahnya sambal mengingatkan bahwa kebahagiaan di dunia hanya sementara. (AM/FAI UMJ)

Leave a Reply

Your email address will not be published.